Connect with us

Subscribe

Asa Mulchias

Get To Know Patrick Park, Digital Marketing Consultant & Public Speaker

Saya percaya marketing dan advertising tidak akan pernah mati. Apalagi sekarang telah berevolusi menjadi digital

Menemukan jalan karir, seringkali, tidak semulus rencana. Ada saja hambatan, tantangan, dan masalah yang terjadi. Uniknya, justru pengalaman-pengalaman “tidak terencana” inilah yang mengantarkan banyak profil untuk menemukan apa yang selama dicari. Patrick Park salah satunya. Walau sempat kuliah mengambil engineering, ia kini aktif sebagai praktisi dan pembicara seputar digital marketing. 

Bersama Marketing In Asia (MIA), Patrick bercerita perjalanan hidupnya yang tidak terduga, tren digital marketing di masa depan, hingga betapa banyaknya perusahaan yang gagal menyadari seberapa besar potensinya tumbuh.

Pada rentang tahun 2011 – 2015, Anda belajar dan lulus sebagai Bachelor of Engineering Civil, Civil Engineering INTI International University & College. Namun, dua tahun kemudian, Anda “mendadak” aktif sebagai pembicara seputar Digital Marketing, bahkan mengambil International Business Management Institute (IBMI) dengan fokus Digital Transformation, Leadership and Team Development. Apa cerita di balik perubahan ini? 

Saya lulus pada tahun 2015 dengan gelar Bachelor of Civil Engineering (Hons) di INTI International University Malaysia. Tak setelah lulus, saya dierima di sebuah perusahaan di sana. Namun karena ada masalah visa kerja, saya harus kembali ke Indonesia. 

Setibanya di sini, keluarga menghendaki saya mengambil pekerjaan yang tidak mengharuskan tidak bepergian terus-menerus. Padahal, bidang pekerjaan sebagai civil engineering sangat berfokus pada proyek yang mengharuskan saya selalu bepergian. Menghargai keinginan keluarga, saya pun melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan dengan job description apa saja.

Lalu saya diterima di perusahaan Futures sebagai bagian Marketing. Di sinilah awal perkenalan saya dengan “Digital Marketing.” Selama bekerja dalam posisi ini, saya sering menjumpai calon klien yang mengeluh seputar ekonomi lesu, daya beli tidak ada, dan sebagainya. Dari sinilah, saya tertarik mencari solusi seputar marketing. Pikir saya, marketnya tidak lesu tapi berpindah. Atau media komunikasi pelanggan telah berbeda. 

Hampir setiap hari saya menyediakan waktu kurang lebih 1 (satu) jam untuk belajar digital marketing, baik itu melalui buku, ebook, seminar, workshop, online course, dan lain-lain. Saya juga menyempatkan diri mengambil sertifikasi dari IBMI dalam Digital Transformation, Leadership and Team Development. Tujuannya karena saya ingin membangun agensi branding dan digital marketing, yang salah satu misinya adalah mengedukasi para entrepreneur. 

Kenapa Anda memilih Digital Marketing sebagai fokus masa depan? 

Saya percaya marketing dan advertising tidak akan pernah mati. Apalagi sekarang telah berevolusi menjadi digital. Yang tak kalah penting, passion saya sangat besar dalam bidang ini. Saya sangat tertarik belajar, memantau pasar, hingga mengembangkan ide-ide baru pemasaran di era 4.0.

Anda pernah berpartisipasi dalam New Entrepreneur Championship Conference 2.0. Kenapa tertarik ambil bagian dalam ini dan apa yang Anda didapatkan?

Saya dan teman-teman di Junkies Corp punya agensi di Malaysia dan tim kami di sana membagikan kompetisi ini pada saya. Setelah saya mengetahui konsep kompetisinya menyerupai “Shark Tank,” yaitu mempresentasikan ide atau inovasi di depan investor agar mendapatkan dana investasi, saya sangat tertarik. Kami bicara tentang ide, cara merealisasikannya, merencanakan perjalanan customer, hingga presentasi cara melakukan branding, business plan, budgeting, scaling, partnership, collaboration, UI dan UX untuk aplikasi tersebut. Mayoritas kompetisi ini adalah entrepreneur muda. 

Walau saat ini dunia tengah menghadapi COVID-19, tren digital marketing apa yang harus diperhatikan? 

Di saat pandemik ini, investlah waktu Anda lebih dalam mempelajari skill digital marketing, tetapi ingat mulailah dari satu hal saran saya mulai dari Facebook Blueprint dan Google Garage untuk mempelajarinya. Untuk tren, ada lumayan banyak. Mulai dari chatbot, video marketing, influencer marketing, visual search (Google), voice search, smart speakers, social media stories, social commerce, shop-able post hingga 5G technology. Investasi lebih banyak waktu di LinkedIn dan Tiktok.

Banyak perusahaan yang gagal menyadari seberapa besar potensinya untuk tumbuh. Apa ciri-ciri perusahaan yang “gagal sadar” ini dan apa yang harus dilakukan agar segera bangun dari ketidaksadarannya? 

Dari pengalaman yang saya lihat dan alami bahwa mayoritas perusahaan terlalu berfokus hanya di sales dan melupakan akan pentingnya sebuah branding. Di era sekarang, kita sudah tidak bisa bersaing dengan diskon atau promo saja. Kenapa? Karena kita berhadapan dengan pelanggan yang lebih teredukasi, cermat dan dimudahkan dalam sisi harga—misalnya dengan membeli produk langsung dari supplier utama dan langsung dikirimkan ke rumah, yang ongkirnya sering gratis pula.

Kita bisa terus bersaing dengan harga ketika kita punya budget yang unlimited. Namun sampai kapan? Untuk sustain, kita perlu menjual cerita di balik produk yang akan kita jual. Inilah yang kita namakan branding. Branding-lah yang kemudian menciptakan segmen pembeli yang mencintai dan loyal pada produk kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menentukan objektif dan target market. Setelah itu pilihlah platform yang tepat dan harus berani bereksperimen untuk menemukan cara paling tepat yang direspon segmen incaran Anda. 

Untuk pembaca MIA yang ingin diskusi dan berkonsultasi dengan Pak Patrick, dapat menghubungi melalui?

Saya dapat dihubungi melalui email. Kunjungi juga website saya atau akun social media saya: YouTube, Instagram, Facebook dan LinkedIn.

Sign Up to Our Newsletter

Asa Mulchias
Written By

Asa Mulchias is Marketing In Asia’s Editor for Bahasa Indonesia. He has more than 10 years of experience as a senior writer and executive editor working for large conglomerates such as Booking.com, Samsung, Rocket Internet and SEA Investment Capital to name a few. Follow him on LinkedIn.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get To Know Jacob Puthenparambil, CEO Of REDHILL

Talking Pod

Get To Know Riffa Sancati, Founder & CEO Of The Lens Story And Author Of The Little Handbook For Big Career

Asa Mulchias

Get To Know Manisha Seewal, Group CMO Of CARRO And CEO Of Jualo.com Indonesia

Talking Pod

Get To Know Babak Kazemi, Founder, Babak Kazemi

Talking Pod

Connect
Sign Up to Our Newsletter