fbpx
Connect with us

Subscribe

Life & Philosophy

Pandemik Dalam Stoikisme

Perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi memberikan kita akses lebih terbuka

Photo by Fernando Arcos from Pexels

“The chief task in life is simply this: to identify and separate matters so that I can say clearly to myself which are externals not under control, and which have to do with the choices I actually control.” 

– Epictetus

Satu hal yang paling penting dalam praktik filosofi stoikisme adalah membedakan apa yang bisa dikendalikan oleh diri kita dan apa saja yang tidak bisa. Hal ini merupakan salah satu pelajaran penting yang diajarkan filosofi berumur dua ribu tahun lalu dan menjadi pedoman bagi banyak pemimpin dunia seperti Warren Buffet, Jeff Bezos, hingga Elon Musk.

Konsep inilah juga yang sebenarnya harus diterapkan di berbagai aspek kehidupan, termasuk bagaimana kita, sebagaimananya manusia modern seharusnya bersikap dalam menanggapi wabah pandemik dari virus COVID-19 yang menginfeksi lebih dari 380.000 penduduk di 177 negara.

Belakangan minggu terakhir, sejak wabah ini merebak pertama kali di Wuhan, China,  kita sibuk mengontrol hal yang diluar kendali kita, namun lupa untuk fokus terhadap hal-hal yang bisa dikendalikan. Padahal ada 3 hal penting yang bisa dikendalikan untuk menyikapi pandemik ini dengan lebih bijaksana.

Kendali Informasi. Perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi memberikan kita akses lebih terbuka terhadap informasi mengenai wabah COVID-19 ketimbang ketika dunia menghadapi wabah SARS di tahun 2002-2003. Seperti pedang bermata dua, hal ini dapat berakibat baik maupun buruk. Baiknya, kita cenderung lebih sigap dan tanggap menanggapi pandemik karena cepatnya informasi yang muncul. Buruknya, kita sulit memilah mana informasi yang dapat dipercaya dan mana yang tidak. Informasi yang membombardir juga menciptakan keresahan dan ketakutan berlebih sehingga berakibat pada tindakan yang kurang bijaksana.

Mencoba untuk memilah-milah sumber informasi yang kita peroleh, apakah ini berasal dari sumber yang valid atau sekedar hoax adalah salah satu cara untuk mengendalikan kendali informasi agar hidup bisa lebih tenang. Kita tidak bisa mengendalikan bagaimana sebuah informasi diproduksi, tapi kita bisa mengendalikan bagaimana informasi tersebut dikonsumsi. Di situasi seperti saat ini, saya mulai membatasi untuk membaca berita. Jikapun harus mencari informasi, saya selalu mencari informasi dari sumber yang valid seperti website resmi Gugus Tugas Percepatan Penangan COVID-19 (covid19.go.id) atau media-media nasional yang kredibel di Indonesia, daripada mempercayai semua informasi yang disebarluaskan lewat grup Whatsapp atau postingan pribadi di media sosial.

Kendali Aksi. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain buat atau kerjakan, namun, kita bisa mengendalikan apa yang bisa kita kerjakan. Misalnya berkaitan dengan asumsi mengenai apa yang tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh pemerintah serta menilai bahwa mereka (read: pemerintah Indonesia) kurang cakap dan tanggap dalam menghadapi pandemi COVID-19. 

Daripada saling sibuk menghakimi serta saling menyalahkan berbagai pihak, bukankah lebih baik jika kita berhenti sejenak untuk berasumsi, alih-alih menyerahkan dan mendukung sepenuhnya pemerintah serta garda terdepan seperti tenaga medis yang berjuang keras dan mempertaruhkan nyawa mereka untuk menolong para pasien yang positif. Sedangkan kita, melakukan aksi nyata yang telah dianjurkan yaitu dengan melakukan social distancing seperti melakukan pekerjaan dari rumah (work from home) untuk mencegah penyebaran virus lebih cepat, serta tidak melakukan panic buying sehingga tidak terjadi kelangkaan terhadap suatu barang.

Kendali Diri. Yang saya maksudkan sebagai kendali diri disini berkaitan dengan kemampuan untuk tidak memanfaatkan pandemik ini demi kepentingan pribadi. Contohnya mudah saja, seperti menimbun serta menjual kembali berbagai barang yang dibutuhkan misalnya masker, hand sanitizer, vitamin dengan harga tinggi. Jika ada godaan tersebut terlintas di benak Anda, tanyakan hal ini kepada diri Anda: Apakah Anda rela untuk meninggalkan sisi kemanusiaan demi meraup sedikit keuntungan?

Tak dipungkiri lagi, pandemik ini berdampak besar pada banyak hal, termasuk sektor ekonomi. Oleh sebab itu, banyak para pelaku usaha yang terpaksa melakukan efisiensi demi kelangsungan bisnis mereka seperti melakukan pengurangan jam kerja atau PHK massal. Jika tidak beruntung, Anda dan saya bisa menjadi salah satu yang terkena dampaknya. Namun, seperti kata Epictetus, hal ini bukan berada di ranah kendali kita. Sehingga untuk menyikapinya, kita harus lebih bijaksana dan tidak mencoba untuk menyalahkan ke satu pihak tertentu, apalagi sampai menyalahkan diri sendiri. Percayalah, bahwa badai akan segera berlalu. 

Sign Up for Our Newsletter

Rendy Tsu
Written By

Rendy is an enthusiastic, data-driven Marketing Communication specialist with more than seven years of work experience in various industries with a Master’s degree in Communication Studies. Follow him on LinkedIn.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

A Liberating Truth: Different People Show Love in Different Ways

Life & Philosophy

Tell Me I Can’t Do It

Life & Philosophy

On Significance, Purpose, Life And Love With Raymond Victorino

Jennette Cajucom

5 Encouraging Things To Say To Help Someone In The New Normal

Life & Philosophy

Connect
Sign Up for Our Newsletter