Connect with us

Subscribe

Asa Mulchias

Get To Know Riffa Sancati, Founder & CEO Of The Lens Story And Author Of The Little Handbook For Big Career

Jika kita mampu menjadi pekerja yang berkontribusi besar, wanita atau lelaki bukan persoalan yang relevan

Menjadi wanita bukan halangan untuk menjadi yang terbaik. Dan memang bukan zamannya lagi mengukur kapasitas seseorang dari tampilan fisiknya semata, melainkan dari kegigihan dan prestasi yang diraih. 

Lihat saja sosok satu ini. Dikenal sebagai ahli di bidang finance dan akunting, Riffa Sancati bahkan pernah duduk sebagai salah satu eksekutif GoPay. Namun, kalangan profesional terkejut bukan main saat ia memilih resign di akhir 2019. Apa cerita menarik di balik keputusan Riffa mundur dari perusahaan decacorn terbaik Indonesia? Kenapa ia “banting setir” menjadi penulis buku dan mendirikan perusahaannya sendiri, The Lens Story? 

Semua dapat Anda nikmati pada episode kali ini!

Halo Bu Riffa. Marketing In Asia sangat senang diberikan kesempatan untuk mewawancarai Ibu. Pastinya ada banyak hal yang menarik untuk digali dari perjalanan profesional seorang Riffa Sancati sejak 2008 hingga detik ini.

Salah satu highlight dari profile Bu Riffa adalah konsistensi Ibu dalam menekuni karir di bidang akunting dan finance sampai menduduki posisi eksekutif, yakni Group Head of Finance GoPay. Namun, akhir tahun 2019, Bu Riffa memilih untuk resign yang mana mengejutkan banyak orang. Apa kisah yang bisa dibagikan Bu Riffa dari keputusan besar ini?

Big goals saya yang belum tercapai pada saat itu adalah menjadi successful entrepreneur dan penulis buku. Saya sudah hobi dagang dan juga hobi menulis sejak masih duduk di bangku SD. 

Awalnya, saya pikir akan bisa mewujudkan keduanya sambil terus berkarier di GoPay group. Namun ternyata, jam kerja yang sangat panjang membuat The Lens Story yang saat itu baru lahir mulai terbengkalai, dan buku yang sedang saya tulis juga tidak ada perkembangan berarti. 

Kerja 12 jam selama weekdays dan kerja mengurus The Lens Story selama weekend mulai tampak mustahil. Saya mulai sakit-sakitan dan pada saat itulah saya menyadari bahwa saya harus memilih antara melepas The Lens Story dan menunda penulisan buku, atau meninggalkan Gopay untuk mengejar cita-cita terbesar saya itu. Penyakit yang sempat cukup serius itu membuat saya lebih memilih untuk fokus menjadi pengusaha dan penulis profesional. 

Akhirnya, di pertengahan tahun 2019, saya mengajukan resign dengan paling lama six months notice agar perusahaan punya cukup waktu untuk mencari pengganti saya. It was not an easy decision but at least later on my deathbed, I can tell myself that I have tried. 

Per Januari 2020, Bu Riffa memulai perjalanan baru sebagai CEO sekaligus Founder dari The Lens Story. Apa itu Lens Story dan apa mimpi besarnya di masa mendatang? 

The Lens Story adalah online marketplace untuk jasa fotografi dan travel. Melalui platform kami, penyedia jasa dapat menawarkan produknya kepada customers.

Mimpi besar saya, The Lens Story bukan hanya dapat menjadi marketplace platform tapi juga komunitas untuk para pecinta travel dan fotografi. Di komunitas ini, saya ingin vendor yang lebih senior dapat membimbing vendor yang baru memulai. Customers juga dapat terkoneksi dengan customers lain yang memiliki hobi serupa. Saya ingin apa pun jenis fotografi dan apapun jenis tour package yang diinginkan oleh customers dapat diakomodasi oleh The Lens Story. 

Dengan demikian, The Lens Story dapat menjadi top of mind untuk jasa fotografi dan travel package dalam artian tiap kali customers ingin jalan-jalan atau membutuhkan jasa fotografi, mereka akan ingat The Lens Story terlebih dulu.

Siapa pun dapat melihat semangatnya Bu Riffa dalam menulis dan membagikannya pada pembaca LinkedIn. Sejak kapan Bu Riffa suka menulis? Apakah menulis itu “keinginan terpendam” selama bekerja di bidang keuangan atau sebenarnya Bu Riffa sudah melakoninya sejak lama?

Saya mulai menulis sejak masih berusia 7-8 tahun. Awalnya, saya hanya menulis buku diary yang isinya curhatan sehari-hari. Kemudian saat kuliah, saya berpindah dari buku diary ke Microsoft Word. Tidak lama kemudian, saya pindah lagi ke medium online blog dan membeli domain sendiri untuk blog saya itu. 

Selain menulis untuk curhat, sedari remaja saya juga sangat ingin menjadi penulis buku. Waktu itu saya ingin menulis novel dengan tema percintaan. Pernah satu kali menulis novel tapi lalu ditolak oleh penerbit. Belum sempat saya perbaiki novelnya, saya sudah mulai kerja di EY sehingga tidak lagi punya waktu untuk menulis buku. 

Semangat untuk kembali menulis buku mulai muncul di awal tahun 2019. Waktu itu, ada rekan kerja yang mendorong saya untuk menulis buku agar dapat membantu lebih banyak orang di luar inner circle saya. Dia bilang, jika saya bisa membantu dia mengubah hidupnya, saya juga akan bisa mengubah hidup orang lain di luar sana. 

Respons positif dari koneksi saya di LinkedIn juga membakar semangat saya untuk kembali menulis buku sehingga akhirnya lahirlah The Little Handbook for Big Career di awal tahun 2020.

Bu Riffa banyak menulis tentang persoalan yang dihadapi di dunia kerja, terutama hubungan antara karyawan dengan sesamanya dan atasan. Menurut pengalaman Bu Riffa di tiga startup di Indonesia, seberapa besar impact dari persoalan ini pada produktivitas perusahaan? 

Saya mempercayai bahwa employee happiness punya korelasi yang kuat dengan produktivitas. Manusia pada umumnya akan mengeluarkan the very best of them saat mereka sedang merasa bahagia. Pekerja yang sudah produktif masih bisa lebih produktif lagi saat mereka sedang bahagia. 

Namun sayangnya, tekanan pekerjaan membuat happiness menjadi sulit untuk didapatkan. Karena tekanan itu pula hubungan antara para pekerja menjadi semakin kompleks. Konflik itu tidak bisa dihindari, tapi bisa dicari solusinya. Pekerja yang mampu belajar dari konflik terburuk sekalipun adalah pekerja yang mempunyai peluang lebih besar untuk sukses dengan kariernya. Pentingnya mindset seperti itu pula yang mendorong saya untuk sering mengupas issue ini baik di LinkedIn maupun buku saya.

Usai mengundurkan diri dari GoPay, Bu Riffa nampaknya asyik menggarap dan menerbitkan buku “The Little Handbook for Big Career.” Bagaimana proses kreatif buku ini dan konten menarik apa saja yang bisa kita temukan di dalamnya?

Segera setelah resign dari GoPay, saya membeli one way ticket ke Bali untuk menyendiri. Saya bertekad pantang pulang ke Jakarta sebelum naskah buku selesai saya tulis. Bosan tinggal di pegunungan di Bali, saya pindah ke Gili Air dan kemudian pindah lagi ke Flores. Dan benar saja! Suasana yang sunyi dan pemandangan indah yang membentang di depan saya telah sangat membantu saya untuk terus menulis. 

First draft buku saya selesai hanya dalam waktu dua minggu saja. Namun ternyata, perjuangan tidak berhenti sampai di situ. Keinginan untuk menyajikan konten yang bermanfaat untuk banyak orang membuat saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk riset dan editing. Setelah tiga bulan, akhirnya buku saya siap untuk naik cetak.

Dari semua book review yang sudah masuk, semua pembaca itu bilang buku saya sangat bermanfaat untuk mereka. Isi buku saya betulan bisa menantang para pembaca untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Banyak pola pikir baru yang saya bagikan di dalam buku itu yang membuat pembaca kembali berpikir ulang mengenai keputusan-keputusan yang sudah mereka ambil selama ini. Pembaca tidak harus mengikuti semua point of view saya, tapi yang paling penting sebaiknya dipahami dulu. 

Jika konten buku tersebut belum relevan bagi seseorang hari ini, bukan berarti tidak akan relevan untuk selama-lamanya. Bila suatu saat pembaca menghadapi situasi sulit dalam kariernya, mereka dapat kembali mengingat pesan yang saya sisipkan dalam buku dan saya harap, pesan itu dapat membantu mereka untuk melewati kesulitan itu dengan baik.

Sebagai eksekutif muda dengan pengalaman lebih 10 tahun di bidang audit, keuangan, hingga business process di perusahaan e-commerce, offline retail dan manufacturing, pernahkah kemampuan Bu Riffa “diragukan” hanya karena Bu Riffa adalah wanita?

Salah satu hal yang sangat saya syukuri dalam perjalanan karier saya adalah saya tidak pernah merasakan diskriminasi hanya karena saya wanita. Selama 11 tahun bekerja sebagai karyawan, di mana pun saya bekerja, saya selalu mendapatkan promosi tiap dua tahun sekali. Saya juga pernah duduk di jajaran department heads di mana saya satu-satunya wanita di antara department heads lainnya. 

Dalam berkarier, saya tidak pernah membedakan diri saya hanya karena saya wanita sehingga menurut saya, itu pula yang membuat orang lain tidak membedakan peranan saya sebagai wanita. Jika kita mampu menjadi pekerja yang berkontribusi besar, wanita atau lelaki bukan persoalan yang relevan. Perusahaan juga pasti tidak mau rugi jika sampai kehilangan top player hanya karena dia seorang wanita, bukan? 

Jadi untuk para pekerja wanita, jangan sampai rasa minder karena “I’m only a woman.” Minder membuat kita serba ragu-ragu dalam melangkah. Jangan biarkan pola pikir itu menjadi penghalang untuk meraih cita-cita besar kita. Tunjukkan pada orang lain bagaimana caranya menghargai kita sebagai wanita dengan cara menghargai diri kita sendiri terlebih dulu.  

Apa definisi dari strong woman versi Bu Riffa?

Strong woman adalah wanita yang kuat mengalahkan berbagai stigma sosial yang banyak beredar di masyakarakat sehingga mereka dapat tetap fokus untuk mengejar impian mereka masing-masing. Apapun pilihan hidup kita sebagai perempuan, baik itu menjadi wanita karier atau full time housewife, akan selalu ada saja omongan orang yang tidak mengenakkan. Strong woman akan bisa mengatasi semua terpaan angin itu dan juga tetap bisa berbahagia dengan jalan hidup yang dipilihnya. 

Sebagai individu, hal apa lagi yang ingin Bu Riffa capai dari titik saat ini?

Saya ingin menyukseskan The Lens Story sampai bisa menjadi world class company, dan saya juga ingin buku saya dapat memberikan manfaat untuk lebih banyak orang. Misi saya sebagai penulis adalah membangun positive and strong mindset agar kita bisa bersama-sama menjadi anak bangsa yang mampu bersaing di level dunia. Butuh waktu lama untuk bisa sampai ke sana, tapi selama saya masih punya cukup umur, saya meyakini akan selalu ada jalan untuk bisa sampai ke sana.

Untuk pembaca MIA yang ingin menghubungi Bu Riffa untuk membeli buku, konsultasi dan lainnya, dapat menghubungi melalui?

Untuk pembelian buku fisik dapat dilakukan melalui Tokopedia dan Shopee dengan nama toko Cerita Media. Untuk e-book dapat dibeli melalui Google Play Book dengan keywords nama saya sebagai book author-nya. Untuk konsultasi, silakan hubungi saya melalui DM LinkedIn Riffa Sancati. Saya selalu menyempatkan waktu untuk membalas semua pertanyaan yang masuk ke inbox saya.

Sign Up to Our Newsletter

Asa Mulchias
Written By

Asa Mulchias is Marketing In Asia’s Editor for Bahasa Indonesia. He has more than 10 years of experience as a senior writer and executive editor working for large conglomerates such as Booking.com, Samsung, Rocket Internet and SEA Investment Capital to name a few. Follow him on LinkedIn.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get To Know Homam Alghorani, Founder Of Rockstars.Media

Kartina Rosli

Get To Know Bhavin Bhavsar, Founder Of TreatSEO & BhavinBhavsar.com

Kartina Rosli

Get To Know Nikki Tang, Founder Of Beautypreneur PH

Jennette Cajucom

Get To Know Melissa Rina Profeta, Co-Founder Of Social Media Academy

Jennette Cajucom

Connect
Sign Up to Our Newsletter