Connect with us

Subscribe

Asa Mulchias

Sumbang 75% Kekayaan, Warren Buffett Memilih Tinggal Di Rumah Kecil Sejak 1958

Ia selalu yakin—ketika belum sekaya sekarang—suatu saat ia akan kaya

Image via The Wall Street Journal

Dalam sebuah wawancara dengan media, Warren Buffett, salah satu pebisnis dan investor bertangan dingin saat ini menuturkan kisah hidupnya yang inspiratif. Menariknya, bersamaan dengan terungkapnya lifestyle Buffett, terungkap pula nasihat-nasihat yang baik untuk para pebisnis, muda dan tua. Apa saja yang Buffett ungkap?   

Yang pertama, pentingnya berinvestasi sesegera mungkin. Sosok yang diibaratkan sebagai perpaduan Einstein, Picasso, dan Croesus ini ingat bagaimana ia membeli saham pertamanya di usia 11 tahun! Bahkan, tiga tahun berikutnya, Buffet melanjutkan investasinya dengan membeli sebuah kebun kecil. Uangnya ia dapatkan dari hasil bekerja mengirimkan surat kabar. 

Buffett juga mengajarkan para pebisnis untuk tidak boros, sesukses apa pun hasil yang telah didapatkan. Buffett sendiri, hingga saat ini, tak pernah pindah dari rumah sederhananya di Ohama. Padahal, rumah itu tak punya pagar, hanya punya tiga kamar—berukuran kecil—dan sudah ia tinggali sejak tahun 1958. Artinya, lebih dari 50 tahun yang lalu! Buffett bilang, rumah itu memiliki segala yang ia butuhkan. Lalu, buat apa ia pindah? 

Selama itu pula, Buffett mengajarkan keluarganya untuk tidak membeli hal-hal yang tidak dibutuhkan. Itu pula yang diajarkan pada anak-anaknya. Prinsip Buffett yang terkenal: pengeluaran lebih kecil dari pemasukan. Hasilnya, keluarga Buffett terbiasa hidup sederhana, walau mereka mampu untuk hidup berfoya-foya. 

Tapi, walau begitu hemat, Buffett bukan orang yang pelit beramal. Bahkan ia dikenal sebagai dermawan yang luar biasa. Yayasan sosial milik Bill Gates pernah menerima kucuran dana sebesar 75 persen dari kekayaan Buffett. 

Walau sangat kaya, selain itu, Buffett tak mau berpura-pura jadi orang lain. Ia menolak berlagak seperti orang kaya. Ia tak bersosialisasi dengan kalangan kaya—dan sebagai gantinya, ia bergaul dengan orang-orang yang punya kebiasaan dan sikap yang benar. Waktu luangnya ia gunakan di rumah, makan pop corn seraya nonton TV. Saking sederhananya, Buffett bahkan selalu menyupir mobilnya sendiri. Ia tak punya supir. Bila pergi seorang diri, ia tak menyewa seorang bodyguard pun untuk menjaganya. Anehnya lagi, untuk urusan bisnis di lokasi yang jauh, ia tak pernah naik jet pribadi. Walau ia pribadi punya perusahaan pembuat jet. 

Kalaupun ada sesuatu yang berkaitan dengan kekayaan, itu adalah mindset Buffett. Ia selalu yakin—ketika belum sekaya sekarang—suatu saat ia akan kaya. Buffett tak pernah meragukannya, walau semenit saja. Ia menyebut judi sebagai permainan yang bodoh. Ia tidak mengasosiasikan sukses dengan uang—melainkan mengerjakan sesuatu yang Anda sukai dan melakukannya dengan baik. Buffett anti berhutang untuk konsumsi. 

Terungkap pula beberapa hal unik yang Buffett terapkan dalam memimpin Berkshire Hathaway—yang mempunyai 63 anak perusahaan. Ia hanya menulis satu surat setiap tahun kepada para CEO perusahaannya, yang isinya target yang harus dicapai di tahun itu. Buffett tak mengundang mereka untuk rapat, atau menghubungi mereka secara teratur. Buffett bahkan hanya punya dua peraturan untuk para CEO-nya: pertama, jangan menghabiskan—bahkan sekali pun—uang pemilik saham. Dua, jangan lupa peraturan nomor satu.

Sign Up for Our Newsletter

Asa Mulchias
Written By

Asa Mulchias is Marketing In Asia’s Editor for Bahasa Indonesia. He has more than 10 years of experience as a senior writer and executive editor working for large conglomerates such as Booking.com, Samsung, Rocket Internet and SEA Investment Capital to name a few. Follow him on LinkedIn.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagaimana Adam Menjayakan Bisnes Atas Talian Tanpa Pengalaman

Azleen Abdul Rahim

How To Know If People Will Buy Into Your Business Idea

Business Entrepreneurship

6 Simple But Extremely Important Things You Need To Know Before You Start A Business

Business Entrepreneurship

Pemasaran Digital Di Malaysia: Ramai Yang Tidak Sanggup Bayar Tetapi Sangat Perlukan Bantuan

Azleen Abdul Rahim

Connect
Sign Up for Our Newsletter